MudaIndonesia
Biografi Rani Vannesa

Biografi Rani Vannesa

Seperti kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang”. Pepatah tersebut selalu lekat dengan sebuah kegiatan perkenalan antara kedua individu yang sama sekali belum saling mengetahui indentitas diri dari kedua belah pihak. Setelah kedua individu saling mengenal diharapkan akan terjalin hubungan persaudaraan yang harmonis dan saling menginspirasi satu sama lain dalam kehidupan selanjutnya. Maka tak jarang banyak kita jumpai buku-buku biografi seorang tokoh yang menuangkan kisah hidupnya dalam sebuah tulisan. Biografi biasanya dapat bercerita tentang kehidupan seorang tokoh yang terkenal ataupun seorang tokoh yang tidak terkenal. Dengan adanya biografi tersebut diharapkan proses-proses kehidupan dari tokoh tersebut dapat menjadi dasar dalam menyikapi suatu masalah.

Saya adalah seorang mahasiswi dari universitas negeri di kota Semarang. Saya saat ini sedang menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi. Saya sedang berada di semester 3 dengan program pendidikan Akuntansi. Saya memilih program pendidikan akuntansi karena saya seorang alumni dari sekolah menengah kejuruan negeri yang ada di kota tempat saya tinggal, Wonosobo. Alasan saya masuk SMK adalah berdasarkan dari pandangan orang tua saya. Orang tua saya berpandangan bahwa jika saya bersekolah di SMA kelak setelah saya lulus saya harus menempuh jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih tinggi. Seperti yang orang tua saya pahami, biaya untuk masuk perguruan tinggi sangatlah mahal dibandingkan dengan pendapatan orang tua saya yang hanya sebagai kuli bangunan saja. Saya juga saat itu belum mengetahui bahwa untuk dapat masuk ke purguruan tinggi bisa menggunakan beasiswa. Alternatif lain adalah setelah lulus SMA tidak harus kuliah melainkan bisa langsung terjun di dunia kerja, namun pandangan orang tua saya adalah orang tua saya menginginkan saya agar memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik dari pada kedua orang tua saya. Karena menurut orang tua saya lulusan SMA dianggap remeh di dunia ketenagakerjaan. Dengan pertimbangan tersebut saya ahirnya memutuskan untuk memilih menuntut ilmu di SMK. Pada saat itu sedang gencar-gencarnya sosialisasi mengenai kelebihan bersekolah di SMK yang salah satunya adalah lulusan SMK mampu bersaing dan dapat sedikit diandalkan dalam dunia ketenagakerjaan. “Setidaknya lebih memliki peluang yang bagus untuk langsung bekerja, karena saya tidak ingin terus menerus membebani keluarga saya”, ujar ku.

Pada saat pendaftaran sekolah ada dua jurusan yang harus dijadikan pilihan, lalu saya memilih jurusan Akuntansi sebagai pilihan utama dan Administrasi Perkantoran sebagai alternatif. Jalur tes tertulis harus dilalui oleh semua calon siswa didik baru. Tes tersebut adalah mengenai kemampuan IQ berupa tes TPA (tes potensi akademik), dan tes berupa soal mengenai Matematika, Bahasa Inggris dan TIK. Tes tersebut diadakan karena memang sudah menjadi standar penerimaan calon siswa baru di SMK yang sudah menyandang RSBI. Setelah menempuh tahap demi tahapan dari tes yang ada, saya ahirnya berhasil diterima di di sekolah tersebut. Pertama saya membaca pengumuman penerimaan siswa baru saya sangat terkejut, saya tidak ada sama sekali dalam daftar nama peserta yang lolos tes tertulis. Situasi pada saat itu juga saya yang hanya berbadan kecil dengan tinggi pada saat itu 148 cm dan memiliki berat badan saat itu 40 kg saja harus berdesak-desakan dengan ratusan calon siswa lainnya yang ingin melihat namanya apakah tertera dalam papan pengumuman penerimaan siswa baru SMK N 1 Wonosobo. Setelah mencoba untuk melihat kedua kalinya ternyata nama saya ada pada urutan ke 23. Peringkat yang cukup memuaskan bagi saya di lingkup kabupaten sementara saya sebelumnya hanya lulusan dari SMP desa.

Saya akui Akuntansi merupakan ilmu yang rumit, karena kemampuan matematik dan logika saya hanya biasa saja. Namun saya tidak pernah berhenti berusaha setidaknya agar mata pelajaran yang lain tidak menghasilkan nilai yang tidak memuaskan di buku laporan belajar setiap semesternya. Dan Alhamdulillah saya menjadi bintang kelas dengan rata-rata nilai rapor 91,25. Dengan hasil tersebut saya menduduki peringkat 2 pararel se-angkatan. Kenapa dibilang pararel, karena di kelas akuntansi adalah siswa dengan kemampuan dan yang memiliki nilai yang bagus pada saat ujian saringan masuk. Kemudian saya juga menjadi bintang kelas untuk semester genap di tahun pertama saya menjadi siswa SMK N 1 Wonosobo. Di semester gasal tahun kedua saya menjadi siswa peringkat kelas saya turun menjadi peringkat 2. Di semester yang ke 4 peringkat saya kembali turun menjadi 3, bahkan pada awal semester di kelas XII SMK peringkat kelas saya semakin anjlok, saya mendapat peringkat 4. Saya perlahan sadar penyebab turunnya peringkat kelas saya adalah karena saya berpacaran. Kemudia di semester genap di tahun ke-3 yaitu semester yang merupakan penentu lulus atau tidaknya saya di UN (ujian nasional). Pada saat try out pertama saya sudah tidak berpacaran lagi, dan pada saat itu juga saya dapa melihat seperti saya terlahir kembali dengan kemampuan untuk mendapatkan nilai-nilai bagus di setiap soal yang saya kerjakan.

Saya selalu mengalami peningkatan nilai di setiap try out yang diadakan sebanyak 4 kali. Nilai tertinggi saya ada di mata pelajaran bahasa inggirs, dan nilai terendah saya ada di mata pelajaran produktif akuntansi. Hingga sampai pada saat pengumuman kelulusan, nama saya terpanggil sebagai siswa yang mendapat nilai sempurna pada mata pelajaran matematika. Sungguh sebuah hadiah yang istimewa untuk saya karena di tahun penutup saya menjadi siswa SMK nama saya juga terpanggil menjadi siswa yang memiliki nilai akhir tertinggi untuk angkatan siswa tahun 2014. Mama saya dengan bangga maju menyambangi saya yang sedang berdiri di podium, tempat dimana semua mata tertuju pada saat acara wisuda sedang berlangsung. Kepala sekolah memberikan penghargaan kepada saya dan sekali lagi inilah kado terindah dari Tuhan YME.

Nama yang sempat terpanggil itu adalah Rani Vannesa. Almarhum bapak saya yang memberikan asma indah tersebut untuk gadis kecilnya. Asal kata Rani adalah dari sebuah nama perahu Rinjani yang bapak saya naiki bersama dengan mama saya ketika perjalanan dari Sulawesi menuju Banjarnegara dengan keadaan mama saya sedang mengandung saya dengan usia kandungan yang mendekati hari persalinan. Rani juga memiliki arti ratu, yaitu wanita yang identik dengan kepemilikan kekuasaan. Semoga kelak nama saya akan membawa saya menjadi wanita yang mampu memimpin keluarga-keluarga saya. Saya dilahirkan di Banjarnegara, 28 Maret 1996 dengan normal. Saat dimana era reformasi sedang gencar digerakan oleh para aktivis mahasiswa, saat dimana krisis moneter sedang melanda Indonesia, dimana harga pangan semuanya mahal. Pada saat itu saya tidak diberi ASI sebagai gantinya saya diberikan susu formula yang harganya tentu saja mahal untuk sekelas bapak saya yang hanya mencari ikan di waduk setelah di PHK dari perusahaan Acrylic Bathup karena adanya krisis moneter tersebut.

Keluarga kecil kama hidup di damai dei sebuah desa bernama Dukuh, Jlarang, Kecamatan Wanakarsa. Saya sudah bisa berjalan ketika saya berumur 9 bulan, tutur Mama saya. Saya juga tidak memiliki gigi yang ompong seperti kebanyakan balita lainnya. Bapak saya selalu tekan mengajari saya belajar menbaca, di buku tulis sederhana yang tidak memiliki sampul. Saya diajari membaca di bawa cahaya lampu Dia, lampu yang terbuat dari botol berbahan beling yang diisi minyak tanah dan ujung botol yang memiliki diameter yang hanya 2 cm di beri kain bekas sebagai sumbu. Jelaga yang dihasilkan sangatlah pekat dan berwarna hitam. Cahaya yang menjadi pembimbing saya setelah cahaya kasih sayang dari Almarhum bapak saya, cahaya sederhana yang dapat mengusir nyamuk dirumah sederhana kami yang dikelilingi kebun dan rerumputan. Bapak saya bangga karena bagi dia saya merupakan gadis kecil yang cerdas, satu-satunya yang di miliki seumur hidupnya yang sangat singkat.

Bapak saya memutuskan untuk mencoba merantau kembali dengan membawa saya dan Mama saya. Kami sempat menetap di Tanggerang, Curug, dan yang terahir kami menetap di Cengkareng, Jakarta Barat. Di cengkareng kami tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana. Bapak memiliki pekerjaan yang dibilang mencukupi kebutuhan hidup keluarga kecil kami. Pada saat itu usia saya sudah genap untuk memasuki jenjang pendidikan yang pertama, sekolah dasar. Saya memasuki sekolah dasar ketika saya berusia 6 tahun tanpa memasuki jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Saya memasuki SD dengan memiliki bekal kemampuan membaca dan menulis serta berhitung. Saya mendapat peringkat 2 di kelas bapak saya membelikan saya sebuah tas koper bergambar Winnie The Pooh, karakter animasi kesukaan saya. Bapak terus menyemangati saya, Bapak berjanji akan membelikan saya sepasang sepatu roda jika saya mampu menjadi bintang kelas. Sepatu roda merupakan barang kesukaan saya, saya ingin seperti anak-anak yang berada di televisi, yang berseluncur diatas sepatu roda sambil tersenyum lebar. Namun Tuhan berkehendak lain. Tuhan mengambil Bapakku, tuhan mengambil satu-satunya cahayaku pada tanggal 14 Febuari 2004. Bapak saya difonis meninggal karena angin duduk. Sebuah penyakit yang menyerang dada Bapak saya, pikir saya selaku anak usia 7 tahun yang sangat senang dengan kartun Dragon Ball, seorang anak yang melihat Bapaknya digotong oleh penghuni kontrakan rumah saya ketika Bapak saya sudah tak sadarkan diri. Bapak saya meninggal pada saat diperjalanan ke Rumah Sakit.

Setelah kepergian Bapak, saya dan Mama tinggal di Wonosobo, tepatnya di desa Balekambang. Saya melanjutkan sekolah saya di SD N Balekambang. Prestasi saya juga dapat dikatan lumayan, karena saya bisa meraih peringkat 2 lagi. Kemudian ketika saya kelas 5 SD Mama saya memutuskan untuk menikah kembali dengan laki-laki yang berasal dari desa yang sama. Saya memiliki 1 adik perempuan yang memiliki jarak usia 10 tahun dengan usia saya. Ketika Mama saya menikah, saya tidak langsung memanggil bapak baru saya dengan panggilan bapak. Saya masih memanggilnya dengan panggilan Om. Panggilan itu berubah menjadi “Pae” (panggilan Bapak dalam bahasa jawa) ketika saya mulai memasuki kelas 1 SMP.

Di SMP saya juga ahirnya dapat meraih peringkat 1 di kelas saya. Saya sejenak ingat janji Almarhum bapak saya yang akan membelikan saya sepatu roda. Hingga saat ini saya belom pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai sepatu roda kemudian berseluncur dengan sepatu roda pemberian Bapak saya. Dengan peringkat 1 di kelas, saya mendapat peringkat 2 pararel pada saat pengumuman upacara bendera setiap hari senin. Saya tidak menyangka saya mendapat peringkat 2 pararel di SMP Negeri 1 Selomerto. Untuk kemudiannya saya selalu mendapat peringkat 1 pararel, mengalahkan teman saya. Mata pelajaran yang saya sukai adalah Bahasa Inggris. Saya pernah mendapat juara 3 tingkat kabupaten dalam perlombaan pidato Bahasa Inggris yang diadakan oleh SMA 2 Wonosobo sebagai salah satu acara di event rutin tahunan bernama Lustrum. Mengapa saya suka Bahasa Inggris karena Pakde saya selalu memutar kaset pita dengan penyanyi barat seperti Celine Dion, Josh Groban, Mariah Cary. Saya sangat menyukai mendengarkan pelafalan mereka ketika bernyanyi dengan Bahasa Inggris. Inilah yang membuat saya sangat menyukai Bahasa Inggris.

Rani Vannesa

Rani Vannesa

Add comment

Most popular

Most discussed