MudaIndonesia

Briananda Ramadya, Memotret Pluralitas Semarang dengan Film

Briananda Ramadya  adalah sutradara film. Mealui film indienya, ia memotret pluralitas di Kota Semarang.

Siswa SMAN 3 Semarang Briananda Ramadya  kini patut merasa berbangga. Film yang telah ia garap untuk mengikuti Festival Film Cipta Damai kini menjadi  juara pertama film dokumenter kategori pelajar tingkat. Film Surban di Kampung Merah garapannya menang.

Briananda Ramadya tidak sendiri. Dalam produksi film ia ditemani dua temannya yang juga siswa SMAN 3 Semarang. Keduanya adalah Nurina Khansa dan Fahrul Deanca

Film Surban di Kampung Merah mendokumentasikan kegiatan Ibu Nurhaida (43), pedagang pakaian di kampung Kauman, Semarang. Menurut Briananda, ini merupakan situasi yang menarik di Kota Semarang, kota yang terkenal dengan keberagamannya. Dari suku, agama, dan kebudayaan, menjadi satu di kota Semarang. Dari perspektif Ibu Nurhaida itulah Brian mengangkat pluralitas Semarang.

“Film ini mengisahkan tentang Ibu Nurhaida seorang pedagang yang berjualan bersama  dengan etnis tionghoa, jawa dan arab di kampong Kauman tapi mereka saling toleransi tanpa adanya perbedaan dan kekerasan,” tuturnya.

Proses produksi dokumenter berjalan selama satu bulan. Tiga minggu digunakan untuk pendekatan dengan narasumber, satu minggu pengambilan gambar. Meskipun pengalaman pertama membuat film, tidak ada kesulitan yang berarti selama proses produksi. Pelatihan yang dibuat oleh panitia festival film dari Search for Commin Groun membuat mereka lebih mengerti cara untuk membuat film.

“Ini kali pertama kami membuat film. Apalagi film documenter,” katanya.

Mereka merasa senang sudah banyak mendapatkan pengalaman dalam membuat film dan sudah mampu membuat film. “ kami merasa senang mendapatkan banyak ilmu tentang film selama pelatihan seminggu di Umbul Sidomukti, Semarang yang dibuat oleh panitia festival film” tambahnya.

Nurina Khansa narator dalam film Surban di Kampung Merah mengungkapkan kebanggaannya sebab tak disangka film hasil garapannya mampu menjuarai festival film dokumnter kategori pelajar tingkat Nasional. “Saya bangga film kami bisa menjuarai dan menang festifal film documenter,” ungkapnya.

Di samping itu, dirinya menyampaiakan bahwa kemenangan adalah bonus dari sebuah proses yang dilakukan.

“Menang lomba kemarin itu hanya bonus aja sih, sebenernya ada kemenangan yang diperoleh lain adalah pengalaman baru. Terutama dalam film ini saya bisa kenal lebih dekat dengan narasumber. Jadi yang utama adalahprosesnya,” tambahnya.

Fahrul Deanca yang merupakan kameramen dalam produksi film tersebut menyampaiakan bahwa film yang mereka buat jauh dari kategori bagus. Apalagi dalam pengambilan gambarnya. “Teknik kamera yang ada di gambar masih jauh dari kata bagus, Mas,” katanya merendah.

Wakil Kepala Humas SMA 3 Semarang Rosikin menyampaikan bangga kepada siswanya yang telah meraih juara film dokumenterdalam ketegori pelajar tingkat Nasional. Pihaknya mengaku akan sangat mendukung apabila siswanya melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan positif.

“Kami dari pihak sekolah berprinsip jika ada kegiatan siswa yang kreatif dan positif maka kami akan sangat mendukungnya. Tinggal bagaimana siswa mau dan siap atau tidak melakukannya,” jelasnya.

Kontributor: Tri Sutrisno

Rahmat Petuguran

Rahmat Petuguran

Add comment

Most popular

Most discussed