MudaIndonesia

Cara Dodit Mulyanto Menampilkan Desa, Membuat Lawakannya Lebih Berharga Dari Sekadar Guyon

Saya selalu suka dengan lawakan Dodit Mulyanto. Memang, tidak selalu lucu sih. Tetapi dia memiliki kemampuan memaksa orang untuk mengingatnya. Itu, antara lain, berkat kemampuannya mengemas citra diri sebagai anak muda ndesa.

Video terbaru yang ia unggah di Facebook berjudul: Ngarit Dulu Gaes. Dalam video itu, dia membuat tutorial mengasah arit. Sesuatu yang amat tidak lazim dilakukan anak-anak muda seusianya.

Dalam tutorial itu, dia menggoda Awkarin, vloger terkenal itu. Begini katanya: Awakarin pernah gak wungkal arit? Sebagai vloger yang keren kamu harus punya skill wungkal arit.

Cara Dodit menampilkan diri sebagai anak muda desa, saya kira sesuatu yang berharga. Dia menampilkan bahwa desa dan kendesaan adalah sesuatu yang indah. Sekalipun ia tak bisa menghindar dari jebakan stereotip terhadap orang desa, ia berhasil menyegarkan kembali ingatan tentang desa yang lamat-lamat mulai hilang.

Cara pandangnya terhadap desa, terhadap dirinya sendiri, bisa juga dimaknai sebagai usaha melawan.

 

Anak-anak muda sekarang (terutama anak-anak muda urban) memandang desa sebagai objek yang eksotis. cara pandang ini sama seperti cara pandang orang Eropa dan Amerika terhadap Asia, sebagaimana Edward Said menyebutnya dalam Orientalisme.

Pandangan bahwa desa adalah objek yang eksotis menunjukkan adanya jarak budaya yang demikian lebar. Anak-anak muda memandang desa dari luar, sebagai orang asing.

Celakanya, pandangan itu sendiri juga kerap dirasakan oleh anak-anak desa. Baik mereka yang asli desa maupun setengah urban, menganggap desanya sendiri sebagai sesuatu yang indah tetapi jauh. Sekali lagi: mereka memandang desanya sendiri sebagai orang asing.

cara pandang itulah yang melahirkan ekspresi-ekspresi konyol. Misalnya, anak-anak desa memamerkan keindahan alam dan masyarakat desa di media sosial seperti seorang turis memamerkan tempat yang baru dikunjunginya.

Anak-anak uda sekarang banyak yang menjadi pelacong di desanya sendiri.

Dodit menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda. Dia melihat desa dari dalam. Ia menempatkan diri sebagai bagian dari komunitas desa. Ketika ia mengolok-olok desa, ia mengolok dirinya.

Bagi saya, inilah yang membuat lawakannya relatif segar. Itulah yang membuat dia dan lawakannya relatif patut diingat.

Karena itulah, saya berharap dia konsisten menjaga gayanya. Saya juga berharap dia berumur panjang.

Semoga dia sehat…
Semoga berjodoh dengan Raline Syah…
Semoga memiliki keturunan yang lebih ndesa dari dia…

Rahmat Petuguran

Rahmat Petuguran

Add comment

Most popular

Most discussed