MudaIndonesia

Desi dan Panggilan Jiwa Mengabdi

Begitu akrab dengan siswa SMK Negeri Jawa Tengah Semarang ketika ditemui di asrama putri Kompleks BP Dikjur Jl. Brotojoyo Nomor 1 Semarang, Kamis (16/10.2014). Wisudawan terbaik periode 3 tahun 2014  Fakultas Ilmu Sosial Unnes ini mengaku ketagihan mengabdikan dirinya untuk masyarakat, walaupun seringkali harus pontang-panting mencari dana.


 

WISUDAWATI angkatan 2010 jurusan pendidikan sejarah, Desi Tri Susilowati sekarang sedang bekerja menjadi guru normatif adaptif di SMK Negeri Jawa Tengah. Sekolah berbasis semi militer untuk siswa kurang mampu atau yang ingin melanjutkan sekolah. Sekolah ini baru diresmikan oleh Kemendikbud, Senin (2/6/2014).

Hal tersebut membuktikan bahwa putri pasangan Sukadi Priyo Hartono (Alm) dan Wardiyem memang benar-benar memiliki jiwa pengabdian untuk masyarakat secara tuntas. Pasalnya setelah lulus dan sebelum menjadi pengajar non PNS, sejak semester tiga Desi sudah tergabung di UKM Gerakan Mahasiswa Anti Narkoba (Gerhana) dan membuat Program pengabdian di Desa Delik Sari, Semarang sebagai kepeduliannya bagi masyarakat.

Beralamatkan di Sugihan RT 1/1 Kecamatan Medosari Sukoharjo, pernah pontang-panting mencari dana sebagai biaya program pengabdiannya. Dengan hasil kerja kerasnya bersama kawan-kawannya, wisudwan yang hobi makan mie ayam ini akhirnya mendapatkan dana di tingkat nasional.

Putri Delik Sari

Desi pernah mendapatkan predikat sebagai putri Delik Sari bagi kalangan masyarakat Delik Sari karena pengabdiannya yang dirasa begitu luar biasa. Membangun desa yang belum terlihat potensi ekonominya, perempuan yang hobi traveling dan menulis ini dapat membuka usaha dan memberdayakan masyarakat Delik Sari hingga sekarang.

“Walaupun Delik Sari belum terlihat potensi alamnya, sekarang terdapat pertanian jamur,” ujarnya santai di lobi gedung sekolah.

Desi bercerita tentang karya yang digarap bersama temannya yang berjudul Character Education Model for Dropped-Out Students at School Village Semarang City Through Performance of Puppet Doll Historical Figures yang berhasil membawanya ke Jepang dalam International Conference On Business And Social Science. Hal tersebut semakin menguatkan dirinya tidak mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diplotkan dari pihak Kampus, melainkan menggunakan Program yang dicanangkan bersama kawan-kawannya. “Jika sudah ada, mengapa kita tidak memaksimalkannya?” ujarnya dengan gaya ceria.

Begitu Dekat

Bagi Desi, target yang direncanakan secara baik dan jelas, kerja keras yang tak mengharapkan timbal balik atau ikhlas dan berpikir mudah dalam menjalani sesuatu hal yang mustahil maka selama ada itikad baik maka target-target tersebut akan tercapai dengan sendirinya.

“Apalagi sebagai mahasiswa, tonggak kemajuan bangsa, harus pintar berbalas budi bagi bangsanya, yaitu dengan cara mengabdi. Maka bekerja keraslah,” itu pesan terakhir yang disampaikan Desi setelah sesi pemotretan. Ternyata tingkat nasrsisnya sebanding  dengan hasil kerja kerasnya.

Setelah sesi wawancara, reporter Express diajak untuk melihat aktivitas anak didiknya yang sedang belajar bersama. Terlihat begitu antusias dan terlihat begitu dekatnya Desi sebagai pengajar hingga dengan lagu-lagu berlirik pelajaran mengantarkan kami pamit pulang. Itulah momen menyenangkan ketika bertemu Desi, sosok motivatif yang menginspirasi.

Muhammad Irkham Abdussalam

Muhammad Irkham Abdussalam

Add comment

Most popular

Most discussed