MudaIndonesia

Dodi Tribowo, CEO Muda dari Purbalingga

MUDAINDONESIA.COM – Sebagian orang memperingati April Mop dengan berbohong dan membuat lelucon untuk orang lain. Tapi bagi Dodi Triwibowo, hari itu tepat satu tahun yang lalu, mungkin akan ia kenang sebagai titik awal perjalanan kariernya sebagai CEO perusahaan TI Rintisan, X-Dev (CrossDev). Dan ini sama sekali bukan lelucon.

Bersama lima rekannya yaitu Aristides Fariz, Akbar Nugraha, Fanidia Nur Utami, Anisa Dameria Christina, dan Anisa Eka Utami, mahasiswa S1 Sistem Komputer Undip ini membangun X-Dev yang bergerak di bidang jasa pembuatan aplikasi.

Ide ini muncul setelah Dodi, Aristides, dan Akbar berdiskusi dengan salah seorang dosen. ”Beliau bilang usaha seperti ini di Semarang belum banyak dan bisa jadi pegangan juga ketika nanti sudah lulus. Semangat pun makin terpacu setelah kami ikut seminar bisnis di kampus.

Lalu setelah itu kami memutuskan untuk merekrut tiga teman yang lain dan akhirnya terbentuk X-Dev,” ungkap lelaki asal Purbalingga ini. X-Dev menyediakan jasa pembuatan aplikasi seperti webbase application, desktop application, dan mobile application. Pasar yang dituju adalah perusahaan, lembaga, atau pun perorangan yang memang butuh aplikasi spesifik.

”Hingga kini udah ada sekitar enam klien yang pakai jasa kami. Masih dari lingkup kecil sih, dosen dan teman. Tapi sekarang X-Dev juga lagi mengerjakan proyek untuk perusahaan di Kalimantan. Kami diminta untuk membuat beberapa fitur aplikasi sistem informasi mereka.”

Dodi mengungkapkan untuk masalah harga, ada beberapa faktor yang berpengaruh, seperti jumlah fitur, tingkat kompleksitas, dan waktu pengerjaan. ”Sebagai contoh, aplikasi semacam situs profil perusahaan biasanya kita patok Rp 5 juta ke atas. Atau sistem informasi perusahaan itu bisa sekitar Rp 40 juta.”

Orang Tua

Penetuan harga pun sebenarnya sudah melalui proses diskusi dengan sang dosen agar angka yang ditawarkan pantas dan sesuai. Tetapi masih saja ada konsumen yang menawar dengan harga yang tidak masuk akal. ”Waktu itu kami kasih harga Rp 8 juta, eh dia nawar Rp 600 ribu. Tentu kami tolak. Nggak lama ada teman lain yang ngenalin ke satu klien, dia nawar Rp 1 juta, eh ternyata masih orang yang sama. Ya, kami tolak lagi!” kenangnya sambil tertawa.

Walaupun masih perusahaan rintisan, Dodi menjelasan X-Dev tidak bisa memberikan harga miring. ”Kalau kami kasih murah hanya karena kami mahasiswa, bisa jadi nanti harga pasar perangkat lunak akan jatuh.” Dodi mengaku kecintaanya pada dunia bisnis dipengaruhi oleh figur kedua orang tuanya yang juga wirausahawan.

”Mereka itu anutanku. Aku kagum sama perjuangan mereka untuk bangkit lagi kayak sekarang setelah sempat bangkrut ketika krisis moneter dulu. Mereka suportif banget sama X-Dev. Bahkan sempat mau dibikinin PTsendiri. Tapi aku merasa belum sanggup dan butuh belajar lebih banyak.”

Lelaki kelahiran 16 Mei 1993 ini pun menjadikan X-Dev sebagai tempat untuk mengasah soft skill-nya. Sebagai CEO, ia dituntut untuk mampu memimpin para anggota dengan latar belakang dan pandangan yang berbeda agar menjadi satu dalam tim. Selain itu ia juga harus selalu jeli melihat dan mengasah potensi yang ada dalam diri tiap anggota tim, termasuk dirinya.

”Aku jadi tahu apa yang nggak aku dapat ketika kuliah. Karena ada yang bilang ketika kuliah tuh kamu cuma dapat kulitnya aja. Jadi, aku berharap lewat X-Dev ini, kami berenam bisa berkembang bersama,” pungkasnya. (62)

Sumber: Suara Merdeka

Rahmat Petuguran

Rahmat Petuguran

Add comment

Most popular

Most discussed