MudaIndonesia
Kaidah Tatatulis Karya Ilmiah

Kaidah Tatatulis Karya Ilmiah

 

Penulisan karya ilmiah mengikuti dua kaidah, yakni kaidah penulisan yang bersifat umum dan kaidah yang bersifat khusus. Kaidah umum adalah kaidah tentang bahasa Indonesia baku dan ejaan yang berlaku secara umum. Kaidah yang bersifat khusus adalah kaidah tentang teknis penulisan yang telah disepakati bersama dan berlaku di lingkungan tertentu. Kedua kaidah tersebut harus diterapkan secara taat asas atau konsisten oleh penulis karya ilmiah.

Karya ilmiah ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yakni bahasa Indonesia yang mengikuti kaidah penggunaan ragam baku keilmuan. Ragam baku keilmuan atau ragam ilmiah itu secara taat asas memilih kata-kata atau istilah yang baku, struktur kata, frase, klausa, atau kalimat yang baku, susunan wacana dan paragraf yang rasional, dan ditulis dengan ejaan yang benar.

Kaidah umum penggunaan bahasa Indonesia ragam tulis telah ditetapkan oleh pemerintah, diantaranya sebagai berikut :

  1. Penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD) ditetapkan berdasarkan Permendiknas No. 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
  2. Penggunaan tata istilah dalam penulisan karya ilmiah ditetapkan berdasarkan Permendiknas No. 146/U/2004 tentang Pedoman Pembentukan Istilah.
  3. Penggunaan kalimat dan penataan paragraf diatur dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
  4. Penggunaan kata baku dalam penulisan karya ilmiah mengacu pada ketentuan yang tertuang pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV.

 

Kaidah khusus antara lain :

  1. Penomoran

Untuk pemeringkatan judul dan subjudul dalam karya ilmiah terdapat dua aturan, yakni menggunakan jenis huruf, ukuran, percetakan, serta letak yang berbeda dan menggunakan angka Arab atau perpaduan angka Arab dan huruf latin.

  1. Perujukan/Pengutipan

Perujukan dilakukan dengan menggunakan nama akhir, tahun, dan halaman buku. Jika terdapat lebih dari dua pengarang maka cara menulisnya nama akhir dari dua pengarang tersebut diikuti dengan dkk. Jika nama pengarang tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama Koran/majalah. Untuk karya ilmiah terjemahan, perujukan dilakukan dengan cara menyebutkan nama pengarang aslinya. Rujukan dari sumber atau lebih yang ditulis oleh pengarang yang berbeda dicantumkan dalam satu tanda kurung, dibatasi titik koma (;) sebagai tanda pemisahannya . Antara nama pengarang dan tahun tidak diberi tanda koma dan antara tahun, tanda titik dua, dan nomor halaman tidak diberi jarak. Cara merujuk kutipan ada dua, yakni cara merujuk kutipan langsung dan tidak langsung.

Contoh cara merujuk kutipan langsung

Soebronto (1990:123) menyimpulkan “ada hubungan erat antara faktor sosial ekonomi dan kemajuan belajar”. (nama pengarang disebut dalam teks secara terpadu).

Sedangkan cara merujuk kutipan tidak langsung

Saliman (1990:13) tidak menduga bahwa mahasiswa tahun ketiga lebig baik daripada mahasiswa tahun keempat. (nama pengarang disebut terpadu dalam teks dengan pencantuman nomor halaman).

  1. Penulisan Daftar Pustaka

Daftar pustaka pada karya ilmiah ditulis langsung setelah teks berakhir (tidak perlu diganti halaman baru), sedangkan daftar pustaka pada makalah, buku, atau penelitian ditulis dengan berganti halaman baru. Dicetak tebal dan tegak seperti “DAFTAR PUSTAKA”. Unsur yang ditulis dalam daftar pustaka secara berturut-turut meliputi :

  1. Nama pengarang ditulis dengan urutan : nama akhir, nama awal, dan nama tengah, tanpa gelar akademik,
  2. Tahun penrbitan,
  3. Judul, termasuk subjudul,
  4. Tempat penerbitan, dan
  5. Nama penerbit.

 

4. Penyajian Tabel dan Gambar

Penggunaan tabel dapat dipandang sebagai salah satu cara yang sistemis untuk menyajikan data statistik dalam kolom-kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah. Tabel yang baik harus dapat menyampaikan ide dan hubungan-hubungannya dalam tulisan secara efektif. Sedangkan penyajian gambar lebih mengacu pada foto, grafik, chart, peta, sket, diagram, dan gambar lainnya. Gambar dapat menyajikan data dalam bentuk-bentuk visual yang cepat dimengerti. Gambar tidak selalu dimaksudkan untuk membangun deskripsi, tetapi dapat juga untuk menekankan hubungan tertentu yang signifikan.

  1. Hal-hal Teknis yang Perlu Diperhatikan

a. Jarak antara tabel atau gambar dan teks sebelum dan sesudahnya 3 spasi.

b. Judul tabel atau gambar harus diketik pada halaman yang sama dengan table atau gambarnya.

c. Tepi kanan teks sedapat mungkkin rata, dengan memerhatikan kaidah pemenggalan kata yang benar.

d. Tidak boleh ada bagian halaman yang kosong kecuali jika halaman tersebut merupkan akhir karya ilmiah.

e.Tidak boleh memberi tanda apa pun sebagai tanda berakhirnya sebuah karya ilimiah, termasuk gambar untuk pengisi ruang kosong.

f. Penyajian rincian numerik hendaknya dihindari.

g. Tidak boleh menambahkan spasi antarkata dalam satu baris dengan tujuan meratakan tepi kanan.

h.  Tidak boleh menggunakan catatan kaki untuk perujukan.

 

 

 

 

Linda Jukda Tunisa

Linda Jukda Tunisa

1 comment

Most popular

Most discussed