MudaIndonesia

Ninda Puspita Dewi, Jurnalisme untuk Memajukan Pramuka

Ninda Puspita Dewi menekuni kepramukaan sejak sangat muda: siaga. Kini ia menerima amanah dari Kwartir Daerah Jawa Tengah menjadi jurnalis kegiatan pramuka.

Ia aktif di kepramukaan sejak sekolah dasar. Ninda, demikian sapaannya, kemudian mulai berperan menjadi seorang jurnalis di Dewan Kerja Daerah Kwartir Daerah Jawa Tengah sejak tahun 2014, yang bertempat di Gedung Dekranasda Jalan Pahlawan No 8 Kota Semarang.

Gadis kelahiran Wonogiri, 19 September 1995 ini diberi amanah sebagai anggota bidang pengabdian masyarakat di Dewan Kerja Daerah Jawa Tengah. Dia memiliki tugas pokok untuk melakukan publikasi kegiatan Pramuka Jateng untuk golongan penegak/pandega, yaitu orang yang berusia 17-25 tahun.

Ninda berpikir bahwa eksistensi pramuka sekarang ini sudah mulai terekspose kembali di kalangan masyarakat . Salah satu pemicunya adalah Kurikulum 2013 yang memasukkan pendidikan karakter melalui ekstrakulikuler Pramuka sebagai ekstrakulikuler wajib di sekolah dari SD sampai SMA sederajat.

Perkembangan teknologi yang pesat membuat Pramuka terus mengembangkan diri dengan menunjukkan eksistensinya di jejaring sosial seperti pengunggahan foto-foto kegiatan berbasis masyarakat. Ninda berharap hal itu dapat mengubah paradima masyarakat awam terhadap Pramuka yang selama ini dianggap hanya tepuk-tepuk tangan dan berbaris saja.

Salah satu yang ngetren di jejaring sosial adalah #Scout For Change, yaitu langkah Gerakan Pramuka yang mempunyai tujuan agar kegiatan Pramuka dapat kembali dominan dalam membentuk pribadi generasi muda yang kelak menjadi motor penggerak perubahan negara ke arah yang lebih baik.  #Scout For Change ini diperkenalkan oleh Kwartir Gerakan Pramuka Nasional.

Menurut Ninda, jurnalis atau biasa dikenal dengan wartawan adalah orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/dimuat di media massa secara teratur.

Pada awalnya Ninda termasuk orang yang gaptek (gagap teknologi) dan tidak begitu menyukai hal-hal yang berkaitan dengan dunia maya. Namun setelah mendapatkan amanah menjadi anggota bidang pengabdian masyarakat Dewan Kerja Daerah Jawa Tengah pada awal 2014, akhirnya dia tertuntut untuk belajar mengelola jejaring sosial seperti publikasi kegiatan Pramuka Daerah Jawa Tengah , menulis di blog dekade11jateng.blogspot.com untuk memberikan informasi dan kegiatan kepada 35 Kwartir Cabang se-Jawa Tengah.

Mewakili Pramuka Jawa Tengah dalam pelatihan jurnalistik dan jejaring sosial di tingkat nasional yang berlangsung di Jakarta menjadi salah satu jalan bagi Ninda memperdalam ilmunya. Dalam pelatihan tersebut peserta diajak berkunjung ke berbagai media massa di Jakarta seperti Kantor Redaksi Kompas yang bergerak di media cetak, Kantor Redaksi Detik yang bergerak di media online, Metro TV yang bergerak di bidang media elektronik.

Tidak hanya itu, pelatihan tersebut juga mendatangkan narasumber yang piawai dan mumpunin di  bidang jejaring sosial yaitu Abdulrahman Makmun, Ndoro Kakung, dan Olivia  Zaliyanti.

Banyak orang yang menganggap sepele bidang humas namun ketika mereka mengetahui betapa besarnya peran orang di balik layar untuk membuat sebuah kegiatan maupun organisasi mendapat citra yang baik di mata masyarakat luas. Ketika terdapat berita yang buruk, otomastis citra dari kegiatan tersebut akan buruk juga sehingga betapa besar efek jejaring sosial terhadap suatu organisasi.

“Jangan pernah takut untuk mencoba. Mulailah mempublikasikan berbagai kegiatan walaupun itu hanya sebuah foto dan satu kalimat saja. Hal yang terpenting adalah niat dan kemauan.” (*)

Muda Indonesia

Muda Indonesia

Add comment

Most popular

Most discussed