MudaIndonesia

Salia Uriepa, Melalui Pendidikan Majukan Papua

Merantau di Jawa untuk belajar, Salia Uriepa terbiasa menahan rindu dengan keluarganya. Itu menjadi bagian  dari pengorbanannya meraih cita-cita: memajukan Papua.

Salia Uriepa harus selalu menahan kerinduannya pada kampung halaman. Sejak 1,5 tahun lalu, tepatnya sejak menjadi mahasiswi Jurusan Bimibingan Konseling (BK) Angkatan 2013, belum satu kali pun dia pulang ke Kampung Kambala, Kecamatan Buruway, Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

“Sejak masuk Unnes, saya belum pulang. Saya kangen sekali pada keluarga. Namun saya harus menekan keinginan pulang itu dengan mengingat kembali tujuan saya di Unnes. Saya harus belajar serius agar nanti saya bisa berguna dalam pembangunan daerah saya. Tapi saya pasti pulang ke sana, suatu hari,” tutur mahasiswi berhijab ini penuh keyakinan.

Gadis kelahiran 23 Juli 1994 ini bercerita, di kampungnya banyak pendatang yang telah berpuluh tahun tinggal dan menjadi bagian warga bersama penduduk asli. Sebagian dari mereka berasal dari Jawa. Umumnya, mereka bermata pencaharian sebagai nelayan. Ada juga yang bercocok tanaman jangka panjang seperti pala, sagu, kelapa, durian, dan rambutan.

Keberadaan Salia di Unnes adalah kisah perjuangan yang panjang dalam mengenyam pendidikan. Ketika bersekolah di SD Negeri 1 Buruway dan SMP 1 Buruway, dia harus tiba di tempat belajarnya sebelum pukul 08.00 WIT. Itu artinya dia dan teman-teman satu sekolah harus berangkat dari rumah pada pukul 05.30 WIT.

Tanpa kendaraan umum, dia harus berjalan kaki di jalanan tanah sekitar 2,5 jam. Memang tidak harus naik-turun bukit seperti kisah Denias dalam film Denias: Senandung di Atas Awan (2006). Tapi berjalan kaki selama itu juga bukan perjuangan biasa.

Sekolah Salia bukanlah sekolah favorit. Namun, itu tidak meredupkan semangatnya untuk berprestasi. Dan Salia adalah siswa yang selalu berprestasi di kelas. Hal itulah yang mendorong kedua orang tuanya, Abu Uriepa dan Nur Aini Riroma, bisa menyekolahkan Salia bisa di Jawa dengan mencari beasiswa dari pemerintah daerah.

Putri pegawai Kehutanan di daerahnya ini sempat menolak saran kedua orangtuanya untuk bersekolah di Jawa. Itu lantaran dia tidak mau hidup jauh dengan keluarga. Dia juga tidak ingin jauh dari teman-teman di kampungnya. Penolakan itu bahkan diwujudkan dengan kabur dari rumah.

Kepala sekolahnya di SMP 1 Buruway itulah yang membuka hatinya untuk belajar terus sekalipun harus merantau di Jawa. “Kamu berprestasi, kamu bisa bawa nama kampung kamu, nama SMP kamu,” katanya menirukan nasihat sang Kepala Sekolah.

Membangun Daerah

Akhirnya dia sadar, di kampungnya banyak teman seusianya putus sekolah. Selain karena persoalan ekonomi, salah satu penyebabnya adalah salah pergaulan. “Banyak teman saya putus sekolah karena menikah dini. Karena itu saya bertekad memperkenalkan pendidikan pada teman-teman saya di pedalaman. Saya ingin membuktikan bahwa pendidikan memberikan kontribusi dalam mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak mulia,” kata penyuka papeda, salah satu makanan khas Papua ini.

Salia memutuskan untuk melanjutkan sekolah menengah atasnya di Jawa. Setelah mengikuti tahap seleksi, ia terpilih menjadi salah satu wakil daerah yang bisa bersekolah gratis dari pemerintah daerahnya. Dia bersekolah di Dwiwarna Senior High Boarding School Bogor.

Semangat Berbagi

Di SMA tersebut, dia aktif dalam kegiatan sastra. Dia sering menulis cerpen. Tidak hanya itu, dia adalah salah satu anggota Paskibra yang mewakili sekolahnya mengibarkan bendera di Kota Bogor. “Meskipun saya dari daerah, saya juga ingin maju dengan mencari banyak pengalaman yang nantinya bisa saya bagikan pada generasi muda di Papua,” kata perempuan yang menyukai karya Andrea Hirata itu.

Semangat berbagi itulah yang membuka hati Salia untuk melanjutkan menuntut ilmu di Jawa. Itu pula alasan dia masuk Jurusan Bimbingan Konseling di Unnes. Dan untuk mengurangi rasa rindu pada kampung halaman, dia mengikuti beberapa kegiatan di kampus. Beberapa aktivitas itu antara lain keterlibatannya sebagai anggota Himpunan Mahasiswa BK dan anggota UKM Mahasiswa Pecinta Alam (Mahapala) Unnes.

Salia tidak sendirian di Unnes. Ada sembilan mahasiswa asal Papua lainnya di Unnes, tersebar di beberapa jurusan. Bersama Salia pula, mereka bertekad bisa pulang ke kampung halaman untuk berbakti pada daerahnya.

“Saya tidak sendirian di sini, ada teman-teman saya yang juga berjuang mendapatkan ilmu. Kalau bukan kitorang, sapa lagi. Kalau bukan skarang kapan lai,” katanya seraya tersenyum. (*)

Muda Indonesia

Muda Indonesia

Add comment

Most popular

Most discussed